Sabtu, 13 Agustus 2016

Meet Him In Riyadhah Garden


Meet Him In Riyadhah Garden
Oleh: Nayaka Al Gibran

Ketika kita membuka mata saat fajar tiba dengan semburat merahnya, apa hal pertama yang terlintas dalam kepala kita? Rutinitas harian telah menanti? Seragam sekolah? Kuliah pagi dari Sang Ibu karena untuk kesekian kalinya kita bermalas-malasan? Atau ulangan dari mata pelajaran yang sangat tidak kita sukai? Dan rencana untuk bolos lagi, mungkin? Pagi-pagi sebelum ini bisa jadi adalah beberapa hal itu yang terfikirkan. Namun, bagaimana jika suatu pagi kita terbangun dengan fikiran gundah? Gundah karena ini adalah awal pagi dimana keputusan penting yang menentukan masa depan remaja kita sedang menanti hari ini. Aku yakin, semua orang pernah berhadapan dengan awal pagi seperti itu. Pagi yang mendebarkan. Tentu saja, mereka yang cukup intelek juga pasti menyebutnya pagi mendebarkan. Bagiku sendiri, malah terdengar mengerikan. Andaipun hari itu adalah hari paling buruk dari seluruh hari buruk yang telah kita lalui selama jatah hidup kita, namun yakinlah, tidak semua hari buruk berujung tak menyenangkan. Kita tak pernah tahu seperti apa hari kita akan berujung bukan? Sama halnya ketika kita mulai membaca halaman pertama sebuah roman, kita tak pernah tahu bagaimana akhir kisahnya. Begitulah layaknya hari. Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi hari ini, kemana langkah membawa kita, dimana kita terdampar, dan siapa yang bakal kita temui…

***
Aku bersandar lemah di sini. Di bangku semen berlapis keramik di taman kecil ini. taman kecil yang berada di gerbang masuk kota ini. Taman kecil yang teduh, namun tak jua meneduhkan hatiku. Mataku menerawang kosong di antara banyak anak yang bergerak ke sana kemari dalam pantauan ayah atau ibu mereka. Tak ada yang sebayaku di sini sore ini, tak ada remaja yang sering kulihat bila aku melintas di depan taman ini, tak ada pemuda-pemudi yang berkelakar dengan laptop di pangkuan –anak kuliahan, juga tak ada pasangan pria-wanita yang duduk berdekatan sambil menatap penuh arti satu sama lain. Semuanya lebih muda bertahun dariku dan lebih tua bertahun-tahun pula dariku. Anak-anak dan orang tua. Aku tak suka kemari. Setidaknya sejak aku benci perosotan, ayunan atau rangka besi warna-warni, aku tak pernah kemari lagi sejak itu. Aku lebih suka menghabiskan hariku di bilik warnet yang pengap, kamar play station yang ribut, atau kadang di bibir pantai bersama sebungkus rokok jika rasa malas untuk tidur di kelas-ku kumat.  Namun sore ini kakiku membawaku memasukinya, bukan tanpa sebab.
Aku menatap sekali lagi kertas di tanganku, entah yang ke berapa kali sejak kuterima hampir satu jam lalu. Hanya secarik kertas saja namun mampu menghadirkan mimpi buruk buatku. Tidak, ini bukan mimpi buruk. Kenyataan yang mengerikan, itu dia. Amplopnya entah kemana, sepertinya jatuh dan terinjak di lantai. Haruskah aku peduli dengan amplopnya sekarang? Saat isinya lebih menyita kepedulian semua indera? Tidak.
Aku sudah tahu sejak pertama menerima amplop itu, bahkan sebelum membuka dan mengeluarkan isinya. Aku tahu bahwa nomorku tak akan kutemui di dalamnya. Tak akan ada di antara deretan banyak nomor lainnya. Tak akan tercantum bersama sekian banyak nomor beruntung didalamnya. Tidak, kecuali mereka salah ketik atau aku cukup pintar. Nyatanya aku tak sepintar itu. Juga tidak seberuntung yang kuharapkan. Namun entah apa yang mendorongku untuk melihatnya lagi di sini. Bodoh, melihatnya di taman ini sekarang tak akan merubah kenyataan. Nomor jahanam itu tak akan muncul tiba-tiba di kertas ini. Terimalah nasibmu. Kertas ini mengejekku.
Aku membuang nafas. Nafas penyesalan mungkin. Penyesalan yang selalu datang terlambat. Tapi itu lebih baik, daripada tak pernah menyesal sama sekali. Kulipat kembali kertas itu, sama seperti lipatan sebelumnya. Tak berubah. Aku mendongak, menatap kerindangan hijau daun pohon di atas kepalaku. Tidak banyak pohon di taman ini, mungkin hanya ada puluhan. Pohon-pohon ini tumbuh melingkar di sekeliling taman dan satu deret memanjang di pertengahannya. Pohon yang seragam. Sangat sejuk. Cabang rindang seluruh pohon mampu menutup taman kecil ini dari sinar matahari. Pohon yang baik. Aku tak tahu entah apa namanya. Di sini orang-orang menyebutnya Pokok Asan. Aku yakin bukan itu nama sebenarnya. Nama botaninya pasti bukan Pokok Asan. Namun apa peduliku? Seperti yang kubilang, ada hal lain yang lebih menyita semua kepedulianku. Lagipula, kita tidak akan masuk neraka gara-gara tak tahu nama sebatang pohon, bukan?
Masih mendongak, warna kuning semarak bunganya menyita perhatianku. Indah. Kami juga punya Sakura di sini, Sakura Kota Petro Dolar di Taman Riyadhah -jika aku boleh menyebutnya begitu. Kota Petro Dolar, julukan lama kota ini ketika dia dielu-elukan karena gas alam di perutnya. Namun kini tak lagi, kota ini sudah ringkih dan terbungkuk.
Aku masih menatap kerimbunan hijau-kuning di atasku, hijau kerapatan daun dan kuningnya bunga. Sesekali angin meniup menggerakkan dahan dan meluruhkan bunga-bunga kuning itu dari ujung tangkainya, membuat tanah di bawah sini tertutupi dengan warna kuning. Harumnya lembut mula-mula, namun aku tahu akan jadi sedikit menyengat bila jumlah yang gugur semakin banyak dan terinjak kaki-kaki berkasut para pengunjung taman. Kupejamkan mata, kubayangkan andai aku adalah sebatang pohon. Aku ingin menjadi Pokok Asan saja, meneduhkan dan punya bunga kuning indah di pucuk sana. Selama hidup hanya perlu berdiri kokoh di satu tempat, menumbuhkan banyak daun, berbunga di musim bunga dan bertahan dari tiupan angin di kala badai. Itu saja. Tak ada tuntutan, tak ada ultimatum, tak ada sanksi, dan tentu saja tak disambangi penyesalan. Tapi kenyataannya adalah, aku tak diciptakan sebagai sebatang pohon. Tidak sebagai Sakura di negeri Jepang, tidak pula sebagai Pokok Asan di Taman Riyadhah.
Assalamualaikum…”
Aku membuka mata, kuturunkan wajahku dari posisi mendongak. Kini menatap satu sosok yang berdiri di hadapanku. Sekilas tatap, aku langsung tau kalau remaja lelaki ini adalah santri. Pakaian yang dikenakannya memberitahukan identitasnya demikian. Celana kain warna gelap, kemeja panjang kerah cina berwarna tak kalah gelap dari celananya, dan tentu saja peci haji warna putih bersih. Sebuah ransel menempel di punggungnya. Taman ini baru saja kedatangan pengunjung baru, calon ulama negeri ini sepuluh atau belasan tahun mendatang.
Assalamualaikum…” Alis lebatnya nyaris bertemu.
Aku sadar jika orang sudah mendoakan kesejahteraanku hingga dua kali. “Waalaikumsalam.” Balasku.
“Ini Taman Riyadhah?”
Dari mana dia datang? Aku diam, menatap penuh heran pada sosok sebaya di depanku.
“Aku harus memastikan kalau aku tak menunggu di tempat yang salah. Apa benar ini tamannya?” Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman.
Aku membetulkan posisi dudukku, tak lagi menyandar asal-asalan. “Benar. Kamu datang ke tempat yang tepat. Ini memang Taman Riyadhah.” Apa dia tak melihat nama taman ini yang tertulis besar-besar di pagar sana?
Dia tersenyum. Menawan. Tapi maaf saja, aku tak pernah suka cowok berkopiah. Bagaimanapun rupawannya mereka, sesuatu dalam celanaku takkan pernah terusik seperti bila aku melihat pria-pria tegap ber-jeans dan berkemeja ketat yang menonjolkan sisi maskulin mereka terang-terangan. Tidak juga seperti bila aku melihat remaja lelakistaylish dengan wajah sempurna dan postur jangkung mengundang hasrat. Yang tersenyum ini cowok berkopiah. Mereka terlalu suci untuk jadi obyek seksualku yang tidak lumrah ini. Terlalu agung, itu yang aku pegang selama usiaku belasan tahun. Jadi senyum memikat di wajah cowok santri ini sama sekali tak membuatku terpikat. Sejauh ini masih belum.
“Boleh aku menunggu bersamamu?” Dia menunjuk sisi kosong di sampingku.
Kenapa harus bersamaku? Masih ada begitu banyak bangku kosong di dalam sini. Mengapa harus memilih bangkuku? Tak bisakah aku punya waktu untuk bersunyi diri menimbang-nimbang masalahku tanpa ditemani orang asing yang bahkan tak bisa membaca nama taman ini?
“Ya, tak masalah. Lagipula hanya menunggu, duduklah selama yang kamu perlukan.” Nyatanya aku tak melarangnya meski aku sangat berharap dia memilih bangku lain. Aku menggeser sedikit sebagai tanda aku mempersilakannya. Semoga nada tak suka dalam kalimatku tadi tak menyinggungnya.
Dia menghempaskan bokongnya di sampingku. Aromanya segar. Apakah para santri memang dikaruniai bau yang harum? Mungkin iya. Mereka belajar agama. Tentu disayang tuhan. Salah satu bentuk kesayangan itu mungkin dengan mengganti bau keringat mereka dengan bau harum seperti yang baru saja kuhidu.
“Namanya tak begitu jelas lagi di luar sana. Ada huruf yang sudah tanggal. Jadi aku harus bertanya untuk memastikan jika aku memang sudah di Taman Riyadhah.” Nada bicaranya sangat bersahabat. “Ini kali pertama aku kemari, berkunjung ke tempat famili. Sepupuku akan menjemputku di sini begitu pengajiannya selesai. Beberapa kali dia sudah pernah mengunjungiku di tempatku, kini giliranku. Dia sepupuku paling baik…”
Ternyata dia bisa dan telah membaca nama taman ini di luar sana. Tetapi, apa aku terlihat mau tahu? Apa yang membuatnya memutuskan bahwa aku perlu mendengar kisah kunjungannya kemari? Saat ini aku tak mau tahu apa-apa, hariku sudah terlalu porak-poranda untuk ditambah cerita tak jelas dari orang asing yang tak bisa mengusik selangkanganku. Kuangkat sebelah alisku dengan tatapan ‘aku-tak-peduli’ untuknya.
Namun dia malah tersenyum. “Teduh ya di dalam sini. Andai aku tinggal di sekitar kota ini, pasti tiap hari akan kemari…” Kembali dia memandang berkeliling. “Apa sudah lama huruf I di pagar sana hilang?” Dia menunjuk ke arah selatan taman. “Keadaannya juga sudah agak kusam ya, catnya sudah terkelupas. Apa mereka yang di dinas pertamanan menunggu hurufnya rontok semua hingga tak terbaca lagi baru dipugar? Seharusnya mereka segera memperbaruinya.”
Baiklah. Sepertinya pandanganku kurang menegaskan pesan yang berusaha kukirimkan untuknya, bahwa aku tak mau tahu dan tak peduli dengannya. Sekarang dia malah berceloteh menilai kinerja dinas pertamanan kotaku, hanya karena Taman Riyadhah kehilangan huruf I di dinding semen berlapis keramik di sebelah selatan sana? Santri yang kritis, bisa jadi dia santri paling pintar di pondoknya. Namun aku tak tertarik.
Aku merespon kalimatnya dengan desahan tanpa minat. Obrolannya sangat tidak penting bagiku. Jika tak memikirkan kesopanan, ingin aku menyuruhnya pindah ke bangku yang lain atau aku yang bergerak meninggalkan bangku ini. Tapi sisa tata krama yang masih kupunya menahanku untuk tak sekurang ajar itu. Dan aku tak mau permisi pulang, pikiranku masih butuh tempat seteduh ini sebelum membawa kehebohan untuk seisi rumah.
Dari ekor mataku, aku melihat Si Santri Kritis di sampingku mulai menggulung lengan kemeja gelapnya hingga sebatas siku. Melirik jam tangannya sebentar lalu memandangku. “Kamu asli warga Kota Lhokseumawe, ya?”
Kupandang dia, sedikit lebih lama dari pandangan tersirat pesan-ku sebelumnya. Seperti tadi, wajahnya masih ceria dan terkesan bebas masalah. Bahkan sebenarnya tanpa tersenyum pun dia cukup menawan. Matanya jernih, alisnya lebat hitam, hidungnya tinggi, bibirnya cerah bebas nikotin –kebanyakan santri memang tak kenal rokok, garis rahangnya tegas, dagunya ditutupi bulu tipis –begitu tipis hingga tak bisa menyamarkan belahan samar di sana. Santri yang tampan, pasti idaman para santriwati di pondok pesantrennya. Sudahkah kesebutkan betapa bersih dan bercahayanya wajahnya? Ya, wajahnya pasti selalu dibasuh air setiap adzan menyerunya. Aneh, evaluasi tatapanku kali ini mulai menyimpang. Semakin lama aku menatapnya dadaku semakin bergemuruh. Apa prinsipku terhadap lelaki berkopiah telah berevolusi? Aku menunduk sambil menenangkan gemuruh dadaku.
“Hey, kamu belum menjawabku.”
Dia menjenguk lebih maju ke wajahku, membuatku segera mengangkat pandangan padanya. “Apa itu penting?”
“Apanya?”
Perkiraanku salah, dia tak sepintar yang kukira. “Pertanyaanmu, apa itu penting?”
“Ohh…” Dia memamerkan giginya yang berderet rapi padaku, juga putih tanpa noda nikotin. “Kamu gak perlu menjawab jika merasa keberatan…”
Dengan tangan kiri, dia menarik peci haji dari puncak kepala. Rambutnya langsung mendominasi sisi kepalanya. Untuk ukuran seorang santri, menurutku dia terlalu highclass. Rambutnya persis bintang iklan shampoo pria. Ikal bergelombang dan memahkotai kepalanya dengan begitu sempurna. Tak begitu kentara saat peci masih bertengger menutupi ikal itu. Dengan tangan kanan dia mengacak kepala. Membuat rambut gelapnya sedikit berantakan sekaligus jantan di saat yang sama.
“Aku hanya berusaha ramah…” Ujarnya kemudian setelah selesai ber-improvisasi dengan kepalanya.
Berusaha ramah? Apa aslinya dia tak ramah?
“Tak mengapa jika kamu tak ingin berbicara, aku hanya akan duduk di sini menunggu sepupuku muncul.” Dia memasukkan peci hajinya dalam saku celana kainnya dan mulai duduk tenang.
Aku mendesah. Haruskah aku diam saja? Tapi sosok di sampingku mulai menyita sedikit perhatian saraf-saraf inderaku. Otakku membisikkan sesuatu. Seburuk apapun sikap yang kupunya, sengeri apapun masalah yang sedang menimpaku, tak seharusnya aku mendiamkan seorang santri. Apalagi dia baru pertama kali kemari, bukan? Sudah sepantasnya dia mendapatkan kesan yang baik untuk kunjungan pertamanya, walau hanya dari orang yang sebangku dengannya di sebuah taman. Semoga ini dicatat sebagai ibadahku.
“Orang tuaku sama-sama asli Kutacane. Keluargaku pindah kemari setelah abangku lulus SMP. Aku lahir dan besar di sini, juga adik perempuanku.” Sungguh, ini kalimat paling pribadi-ku untuk orang asing sejauh ini. Seharusnya aku tak perlu menyinggung asal-usulku, cukup menjawab ‘ya’ saja untuk pertanyaannya tadi.
Kulihat dia tersenyum. Tuhan, mengapa wajahnya terlihat makin membius? “Semoga kamu tak merasa terpaksa menjawabnya.”
Terpaksakah aku? Sepertinya tidak. “Kamu sendiri, darimana asalmu? Rasanya aneh berjumpa dengan orang yang baru pertama kali kemari.”
Dia tertawa. “Kenyataannya aku memang baru pertama kali kemari.” Tangannya melepaskan tali ransel dari kedua bahu lalu menyandarkannya pada bangku di sebelahnya. Dia beringsut lebih rapat ke arahku setelah sisa ruang kosong bangku kami diambil alih ranselnya. “Aku berangkat dari Meulaboh semalam, melepas lelah di Mesjid Raya Baiturahman hingga waktu dhuha lalu naik bus dari terminal Lueng Bata menuju kemari lewat jam sepuluh pagi tadi.”
Aku mangangguk, faham kalau dia baru saja menempuh enam jam lebih perjalanannya dari Banda Aceh kemari. “Kamu asli Meulaboh?”
“He eh. Orang-orang menyebutnya Melbourne. Tau?”
Aku tertawa. Tawa pertamaku setelah melihat isi kertas yang masih kugenggam. “Tentu, aku sering mendengar lelucon itu.”
“Padahal jauh sekali beda lafalnya.”
“Tapi itu terdengar keren. Pernah kamu bayangkan bila ada orang asing bertanya ‘Where have you come from?’ lalu kita menjawab ‘Melbourne?’ pasti si orang asing akan ternganga bermenit-menit membayangkan betapa jauhnya tempat asal kita.” Semoga bahasa inggrisku tak salah kali ini. Aku membatin
Dia terpingkal. “Yang lebih parahnya adalah bila Si Orang Asing membayangkan bagaimana seorang turis Melbourne punya tampang pribumi. itu mengelikan.” Dia kembali tertawa.
“Jadi, dari semalam kamu belum mandi?” Tanyaku beberapa saat setelah tawanya berhenti. Dia memberi cengirannya untukku. Aku langsung tahu jawabannya.
“Hanya sikat gigi saja sejauh ini.” Wajahnya sedikit merah. Malukah dia? Tapi aku salut, dia jujur mengakui. “Sangat terlihat ya?” Dia memandang pada dirinya sendiri, juga mengendus-ngendus bajunya.
Aku menggeleng. “Gak. Justru kamu terlihat cukup bersih dari orang yang sudah mandi hingga tiga kali hari ini.” Karena kamu tak absen bersuci. Kalimat lanjutanku itu hanya menggaung dalam hatiku.
Dia tersipu sambil kembali memberiku seulas senyumnya. “Apa aku bau?” Merasa tak yakin dengan penciumannya sendiri, sekarang dia beringsut merapat padaku sambil memberi lengan bajunya untuk hidungku. Dia terlalu mudah akrab dengan orang yang baru dijumpai. Inikah yang disebutnya dengan ‘berusaha ramah’?
Aku mengendus juga lengannya, untuk menghormatinya tentu saja. Seperti yang kukatakan saat awal kemunculannya, dia harum. Begitu pula hasil penciumanku kali ini. Dia masih seharum tadi. “Kamu sama sekali tak bau.” Jawabku jujur.
“Tentu, jika aku bau kamu pasti akan segera meninggalkan bangku ini sejak aku duduk tadi.” Dia nyengir lagi seraya kembali ke posisi duduknya semula.
Aku memutar bola mata. Untuk ukuran seorang santri, lelaki ini terlalu banyak bicara. Tapi tunggu, mengapa kini aku malah merasa menyenanginya? Senang dia banyak bicara. Bahkan aku mulai merasa terhibur. Persoalan besar yang ada di kertas dalam genggamanku saat ini sedikit banyak tak lagi membuat suram suasana hatiku. Santri ini penyebabnya.
“Kertas apa itu?” Dia menunjuk tangan kiriku dimana kertas itu kugenggam.
Aku mendesah. “Bukan apa-apa.” Kumasukkan kertas berlipat itu dalam saku celanaku. Sepertinya wajahku kembali mendung.
“Bukan hidup namanya jika bebas dari masalah…” Apa dia melihat perubahan riak wajahku? Dan menyimpulkan bahwa aku sedang terlibat masalah?
“Setuju.” Aku berdehem. Kualihkan obrolan. “Apa yang mengantarmu jauh-jauh dari Melbourne datang berkunjung kemari?” Aku menatapnya. “Ta’aruf?”
Dia terpingkal lagi. “Kamu sungguh lucu.” Dia menggeleng-gelengkan kepala, merasa geli sendiri dengan pertanyaanku. “Tau apa itu ta’aruf?”
“Temu jodoh?”
“Hemm, yah bisa dibilang begitu istilah kasarnya. Dalam islam, ta’aruf itu lebih dianjurkan ketika laki-laki muslim siap menikah. Jadi, Si Lelaki akan melihat wanita calon istrinya untuk pertama kali dan langsung memutuskan apakah ingin mengambilnya sebagai istri atau tidak pada hari itu juga. Istilah sederhananya, lihat langsung dan langsung putuskan.” Dia menatapku. “Tentu kamu tahu kan, tak ada istilah pacaran dalam islam…”
Sepertinya ini akan berkembang menjadi diskusi-diskusi religi ala santri jika aku tak segera membelokkan topiknya. Aku tak punya kemampuan dalam hal itu. salahku juga yang menyingungnya pertama kali. “Baiklah, aku mengerti. Bisa kita kembali ke pertanyaan sebelumnya?”
“Tentu. Lagipula aku kemari bukan untuk ta’aruf-an. Aku masih terlalu muda untuk itu, bisa jadi usiaku tak terpaut jauh darimu…”
“Aku tujuh belas.”
“Aku bisa melihatnya.” Dia menggerakkan dagunya padaku. “Aku masuk sembilan belas.”
Kutatap diriku sendiri dalam balutan putih dan abu-abu. Kembali aku ingat kertas yang baru saja kumasukkan dalam saku celanaku.
“Masih ingin tahu mengapa aku bisa sampai kemari?”
Aku menatapnya lagi lalu mengangguk.
“Seperti yang kusebutkan pertama kali. Aku berkunjung ke tempat familiku. Rumahnya di Darussalam, tau? Kabarnya melewati jalan menuju pantai Ujông Blang.”
Tentu saja aku tahu, mengapa dia bertanya? Seharusnya dia masih ingat keteranganku tadi, bahwa aku lahir dan besar di sini. Mustahil aku tak tahu tempat yang dia sebutkan. Aku mengangguk untuknya.
“Aku belum pernah kemari, ingin juga sekali-sekali bersilaturrahmi. Kebetulan dayahku sedang libur, pondoknya sedang direnovasi. Jadi ada kesempatan buatku untuk datang ke sini. Karena tak tahu rumah, sepupuku minta aku menunggu di Taman Riyadhah, dia akan menjemputku setelah jam ngajinya selesai… aku sudah bilang ini tadi kan?”
Ya, aku ingat dia sudah sempat menyebut itu, tapi aku belum tertarik menyimak kalimat-kalimatnya di awal tadi. Tidak setelah menatap wajahnya sedikit lebih lama. Aku mengangguk mengiyakan. “Kenapa tak naik becak saja, cukup beritahu alamatnya dan kamu akan diantar ke pintu rumah sepupumu itu.”
Dia tersenyum. “Aku sudah naik becak dari terminal bus kemari.”
“Kenapa tak naik becak sampai ke Darussalam?” Aku masih merasa aneh dengan pilihannya yang mau menunggu berlama-lama di sini, tak ada tukang becak yang tak tahu jalan ke Darusalam.
“Sepupuku memintaku menunggu di sini. Lagipula, jika sekarang aku langsung mencari rumahnya maka tetap aku akan menunggu di teras. Ibu sama bapaknya masih bekerja, dan dia anak satu-satunya masih berada di pengajiannya. Otomatis rumah kosong. Daripada aku harus susah payah nyari alamat hanya untuk bengong di teras rumah atau malah di luar pagar jika gerbangnya ternyata digembok, bukankah lebih baik aku ikut instruksi yang sudah jelas saja?”
Aku manggut-manggut. Cara berfikirnya cukup logis, praktikal. Kembali aku menganggapnya pintar. Kuberi dia sebuah senyum. “Ya, kamu memang lebih baik menunggu di sini.”
Dia mengangguk untukku. “Semoga sepupuku datang sebelum kamu bangun dari bangku ini.”
Aku tertawa. Apa ucapannya itu dapat kuartikan kalau dia secara halus memintaku untuk tetap menemaninya hingga sepupunya datang menjemput?
“Sepertinya menunggu di sini dengan teman yang sebaya sambil berbicara apa saja lebih menyenangkan ketimbang menunggu sendirian sambil melihat balita-balita itu merangkak di tiang besi.” Dia mengangkat dagu ke arah sekumpulan bocah yang sedang memanjat rangka besi di sebelah barat taman.
Dia menyebut ‘teman’? Apakah aku sudah dianggapnya sebagai teman? Mudah sekali baginya untuk memberi predikat itu pada orang yang baru dikenal. Oh tentu saja, semua muslim adalah bersaudara. Ajaran itu pasti sudah sangat diyakininya. Jadi jika semua muslim adalah saudara, mengapa harus sulit memberi label ‘teman’ yang notabene-nya tidak lebih akrab daripada sebutan saudara?
Hembusan angin meluruhkan lagi bunga-bunga kuning dari atas sana, sekaligus menerbangkan yang telah lebih dulu gugur di sekitar kakiku –juga kaki mereka yang berkunjung kemari sore ini. Aku menghirup udara, wangi bunganya masih lembut, belum menyengat. Belum banyak bunganya yang terinjak di bawah sini.
“Indah ya…”
Aku menoleh padanya. Tersenyum mendapati ikal rambutnya penuh warna kuning bunga Pokok Asan yang baru saja luruh. “Rambutmu penuh bunga…” Entah apa yang mendorongku untuk menyapukan jari-jariku di atas kepalanya.
“Mereka juga ada di kepalamu.” Dan tanpa ragu dia balas mengacak kepalaku sambil meniup-niup.
Aku berdebar. Kutarik tanganku dari kepalanya dan kembali duduk tegak. Dia melakukan hal serupa. Apa yang terjadi denganku? Lagi, apa pandanganku terhadap lelaki berkopiah telah berubah sejak saat ini? Di sampingku, dia bersenandung tak jelas sambil mengacak rambutnya untuk melenyapkan bunga-bunga kuning di sana. Aku mengikutinya membersihkan kepalaku sendiri.
Beberapa saat lamanya kami terdiam. Lalu aku ingat bungkus rokok dalam kantongku. Mungkin sebatang rokok dapat membantuku agar lebih merilekskan saraf-saraf di kepalaku untuk sementara waktu. Kukeluarkan dan kuselipkan sebatang isinya di sela bibirku. Aku yakin dia tak merokok, tapi tetap kusodorkan juga bungkus ini padanya. Aku mengeluarkan mancis dan siap menyulut gulungan nikotin di bibirku.
“Aku tak merokok, maaf.” Tolaknya sambil merangkapkan telapak tangan di depan dada. Menolak rokokku dengan kesopanan yang menurutku berlebihan, tapi pasti lumrah saja baginya.
“Tentu, rokok kan haram bagi para santri.” Ujarku sambil memasukkan bungkus itu dalam sakuku kembali dan kemudian menyalakan rokokku sendiri. Asapnya mengepul, sejauh ini masih sanggup membuat mataku perih. Tapi aku masih saja menyulut benda ini di mulutku.
“Bukan haram, tapi makruh…” Ujarnya.
Kuhembuskan asap rokokku ke udara lalu menatapnya.
Makruh itu pekerjaan yang tak disukai Allah, pekerjaan atau perkara yang dibenci. Aku tak mau dibenci…”
Beberapa saat lamanya, aktivitas merokokku terhenti. Aku takjub dengan pola pikirnya.
“Lagipula, dari sisi kesehatan rokok juga dilarang kan? kamu baca bungkusnya? Di situ jelas tertera bahayanya, orang yang bisa melihat dan bisa membaca pasti sadar itu. Aneh, mengapa orang-orang tak menggubrisnya? Menggadaikan kesehatan mereka demi asap yang tak berguna, senang dengan lezat sesaat dan mengesampingkan sengsara berkepanjangan sebagai akibat yang ditimbulkan benda makruh itu…” Dia menatapku lebih lekat. “Jadi remaja keren itu gak harus dengan rokok di bibir kan?” Dia menyindirku. “Aku juga pernah melewati fase hidup sepertimu, aku tahu betul rasanya dielukan sejawat. Bukan pria kalau tidak merokok, bukan pria kalau tidak keluar malam, bukan pria kalau tidak berganja, bukan pria kalau tidak begadang. Semua omong kosong itu…” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku menelan ludah. Ada kharisma dalam suaranya yang membuatku mencampakkan rokokku ke tanah. Kuinjak bara di ujungnya dengan sepatuku.
“Kamu tak perlu melakukan itu… aku tak bermaksud mendiktemu. Ini hidupmu, kamu bertanggung jawab sepenuhnya dengan dirimu sendiri. Lagipula kita tak mengenal satu sama lain kan? aku bukan siapa-siapa bagimu, begitu juga kamu bukan siapa-siapaku…”
“Lupakan itu.” Entah mengapa, aku kurang suka dengan ujung kalimatnya barusan. Bukan siapa-siapaku, itu. Ada apa denganku? Aku merogoh saku celana dan melemparkan bungkus rokokku ke dalam tong sampah berikut mancisnya. Kulihat dia berusaha menahan tawa.
“Aku pasti baru saja dapat pahala…” Tak berhasil diam kini dia tertawa. Tawa singkat saja. Kemudian dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman. Seperti mencari sesuatu. “Harök pajôh ranup?”(1)
Aku berpaling padanya. Tanpa menunggu jawaban dariku dia bangun dari duduknya dan menuju pada bapak-bapak penjual jajanan yang sedang berada di ujung barat taman. Ada beberapa penjual jajanan serupa di dalam sini. Mereka menjajakan sirih dan beberapa jajanan lainnya. Cara jualannya unik, persis seperti anak-anak penjual rokok keliling yang mengantung kardus dagangannya di leher. Begitu pula dengan bapak-bapak ini, mereka mengikat dagangannya dengan tali raffia, menyampirkannya di kedua bahu dan menjajakannya dengan berjalan kaki berkeliling ke seluruh tempat. Melelahkan pastinya.
“Nih…” Dia kembali ke bangku dan menyodorkan kantong kecil bening berisi gulungan sirih padaku. “Jangan bilang kamu belum pernah makan ranup mameh(2) kayak gini. Kabarnya sirih bisa menenangkan loh, siapa tahu hatimu bisa lebih damai menyikapi masalahmu, setidaknya untuk saat ini saja.” Dia masih mempertahankan keyakinannya bahwa aku punya masalah. “Dan tentu saja, ini seribu kali lebih sehat dari rokok, yang paling penting… sirih bukan barang makruh.” Dia memasukkan satu gulungan sirih dalam mulutnya dan mulai mengunyah.
Aku merogoh kantong itu dan mengeluarkan satu isinya untukku. Aku jarang makan sirih, menurutku sirih dan pinang adalah perkakas orang tua. Aku ingat dulu pernah satu kali makan sirih seperti ini, sirih yang di dalamnya sudah diberi pinang tumbuk yang rasanya manis lalu digulung sedemikian rupa dan disudip dengan sekerat lidi kecil agar tak tumpah. Waktu itu aku hanya iseng coba-coba mengunyahnya. Entahlah, aku tak begitu suka rasanya yang kelat-kelat manis dan efek lidah tebal setelahnya. Sekarang seseorang menawarkannya untukku.
“Kamu tak suka sirih?” Dia memperhatikanku. “Kamu tak harus makan itu jika kamu tak suka. Jangan hanya kerena tak berani menolak lantas kamu menyiksa lidahmu.” Dia masih terus mengunyah, menikmatinya.
Aku memasukkan gulungan sirih itu ke mulut dan mulai mengunyahnya. Rasanya sama seperti saat aku pertama kali mengunyahnya dulu. Tapi sensasi yang kudapatkan kali ini beda, lidahku seperti menikmatinya, bahkan aku merasa familiar dengan rasa kelatnya. Aku mulai suka mengunyahnya dalam mulutku. Dia tersenyum sambil merogoh gulungan sirih berikutnya. Aku mengikuti.
Deru motor dan suara ribut riuh rendah terdengar dari arah jalan masuk kota Lhokseumawe. Aku membawa pandanganku ke arah Simpang Kuta Blang di sebelah barat sana. Cukup jelas terlihat dari dalam sini. Aku menghela nafas berat lalu menunduk dalam. Konvoi putih abu-abu penuh celemongan pilox warna-warni melintas di depan taman, sebagian lurus arah kota dan sebagian membelok memutari Taman Riyadhah kembali ke Simpang Kuta Blang untuk selanjutnya melaju ke jalan keluar kota. Aku menatap seragamku, bersih. Tak ada warna-warna seperti mereka yang baru saja selesai dari konvoi perayaan kelulusan mereka. Kantung mataku mulai berat, sesal itu kian mengganyut dalam diriku. Terlintas kembali hari-hariku sejak tiga tahun lalu, hari-hari penuh ceramah karena datang terlambat, karena kebanyakan alpa, karena tak ikut ulangan, tidur di kelas, PR yang sering tak selesai tepat waktu, nilai ujian yang selalu pas-pasan bahkan keseringan jelek, bermacam model sanksi pelanggaran atau spidol-spidol yang melayang ke mejaku, dan entah apa lagi. Ya tuhan… begitu panjang daftarnya. Aku menunduk semakin dalam.
“Kamu tak mewarnai seragammu dan ikut konvoi bersama rekan-rekanmu yang lain? Pasti itu seru, sekali seumur hidup aja kan momen coret-coret begitu?” Dia memperhatikan seragamku yang masih bersih. “Tapi dasimu bagus, aku suka warnanya. Sayang kalau ikut dicat…”
Kerongkonganku seakan tercekat. Jika aku siswi, pasti aku sudah meraung histeris sejak membuka amplop di ruang kelasku tadinya. Tapi aku seorang siswa, lelaki. Mustahil aku berair mata di sana, tidak juga di sini. Kulonggarkan dasi abu-abuku yang katanya bagus itu.
“Hei… kamu tak ikut bersama mereka?” Dia mengulang kalimat tanyanya.
Aku menggeleng. “Seragam ini masih kuperlukan selama tahun ajaran depan…”
“Kamu belum kelas tiga?” Keningnya mengernyit.
Aku diam.
“Kamu masih kelas satu?”
“AKU TAK LULUS…!!!” Aku berteriak padanya. Emosiku tak terkendali lagi. Sekeras apapun aku berusaha agar tak menangis, namun tak bisa. Aku lelaki, tapi nyatanya mataku basah. “Aku tak lulus… aku tak lulus…”
Dia terpana, beberapa anak di sekitarku berhenti dari aktivitas mereka dan memandangku sesaat. Teriakanku menarik perhatian mereka, tidak… teriakanku membuat mereka takut.
“Aku tak lulus…” Ulangku lirih. Berulang kali aku mengerjap untuk memupus rembesan memalukan dari bola mataku. Namun gagal, yang terjadi malah mataku semakin membuatku terlihat kekanak-kanakan. Hidungku mulai berpartisipasi memperburuk sosokku.
Lalu tiba-tiba saja aku sudah menyandar di bahunya. Aku tak sadar kapan tangannya meraih kepalaku dan membawanya ke sana. “Selalu ada hikmah di setiap kegagalan… percayalah. Yakinkan dirimu bahwa kamu akan mewarnai seragammu tahun depan. Yakinkan itu.” Dia menepuk-nepuk punggungku perlahan. Hangat dan bersahabat. Rasanya bagai sudah mengenalnya cukup lama. “Bohong jika aku berkata turut merasakan apa yang kamu rasa sekarang, karena aku tak mungkin tahu bagaimana rasanya. Bukan aku yang mengalaminya. Tapi aku mengerti perasaanmu. Jujur, aku mengerti…”
Aku nyaman di bahunya. Tak kupedulikan beberapa pengunjung –anak dan orang tua- yang menoleh sesaat ke bangkuku dengan pandangan ingin tahu. Angin kembali meluruhkan bunga-bunga kuning di pucuk sana, menyiram aku dan dia. Kubiarkan bunga kuning itu di kepalaku, begitu juga dengannya.
“Kamu boleh kok menggunakan lengan bajuku untuk menyerut ingusmu…” Kudengar dia berkata setelah beberapa lama aku masih menyandar padanya. “Toh baju ini juga sudah cukup kotor, ingat… aku tak menggantinya sejak semalam.”
Aku mengangkat kepalaku dari sana. Tertawa kecil tertahan-tahan bersama sisa-sisa sedu-sedanku. Dia ikut tertawa pelan sambil melirik bahunya yang basah.
“Maaf… aku terlihat seperti anak TK ya…” Aku mengusap kedua mataku.
Kembali dia tersenyum sambil menurunkan gulungan lengan bajunya. “Pernah dengar kata bijak ini… tuhan memberi kita kegagalan agar kita sadar kodrat kita sebagai hamba, dhaif dan tak punya kuasa. Kita tak bisa meraih kesuksesan tanpa ridha-Nya, sekeras apapun kita berusaha…”
“Aku tak pernah berusaha cukup keras…”
“Aku belum selesai.”
“Maaf…”
“Dan tuhan tidak memberi kita kegagalan melainkan agar kita lebih bersyukur ketika Dia memberi kita keberhasilan. Tahu artinya apa?”
Aku menggeleng pelan.
“Artinya, kita tahu bagaimana sakitnya kegagalan, karena kita telah lebih dulu merasakannya. Ketika keberhasilan atau kesuksesan kita raih di kemudian hari, tentu kita menyadari betapa nikmatnya sukses itu dan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur. Bersyukur dengan rasa ikhlas yang meluap-luap. Itu pasti, kamu akan membuktikannya saat kamu lulus tahun depan.”
Kami bertatapan beberapa lama. Sosoknya mulai terekam di kepalaku.
“Lalu tentangmu yang tak cukup keras berusaha, menurutku itu bukan hal yang patut disesali. Hidup selalu berdasar pada hukum sebab-akibat, kan? Kenapa banjir? Sebab sungai meluap. Kenapa kemarau? Karena hujan tak kunjung turun. Kenapa ozon menipis? Karena polusi. Itu sebab akibat. Begitu juga halnya denganmu sekarang. Mengapa kamu tak lulus, karena kamu tak cukup keras berusaha. Itu lumrah, sudah begitu aturannya hukum sebab-akibat. Tak perlu disesali. Bagaimana juga seharusnya?” Dia menatapku lekat.
Aku tak tahu harus berucap apa. Semua penuturannya seakan membiusku agar hanya menyimak gerak bibirnya dan menangkap semua suara yang keluar dari sana dengan indera pendengarku untuk selanjutnya kusimpan dalam memori di batok kepalaku. Hanya itu. Mataku mengerjap-ngerjap.
“Hei, bagaimana juga seharusnya?” Dia mengulang bertanya padaku.
Aku menggeleng. “Aku tak tahu…”
Dia balas menggeleng pelan untukku. “Jadikan itu pengajaran. Itu satu-satunya hal yang bisa kita lakukan. Belajar dari pengalaman. Tentu kamu pernah dengar ujar-ujar begini, pengalaman adalah guru paling baik. Itu benar. Kamu punya pengalaman bagaimana akibat dari usahamu yang tak cukup keras menuai kegagalan tahun ini, nah… pengalaman itu akan jadi cambuk untuk mengubahmu dan menjadikanmu lebih baik lagi di tahun depan. Percayalah.”
Aku seperti baru saja keluar dari kelas pencerahan bersama narasumber paling handal di dunia. Pikiranku dan pandanganku terbuka. Aku sangat yakin, ayahku tak bisa memberiku nasehat sebegini rupa. Kupandang sosok di hadapanku dengan mata berbinar. Ingin aku memeluknya, tapi aku takut dia risih.
“Apa aku terlalu banyak berkata-kata?”
Aku tersenyum lalu menggeleng.
“Syukurlah…”
Aku mengelesoh di tempat dudukku. Semua kalimat-kalimatnya berlompatan dalam kepalaku. Dia ikut menyandar santai di sampingku. Hari semakin beranjak senja.
Lalu bunyi ringtone hape nyaring terdengar antara kami. Bukan ringtone-ku. Kulihat dia merogoh sakunya, mengeluarkan pecinya lebih dulu dari sana diikuti hapenya kemudian.
“Sepupuku…” Ujarnya padaku.
Aku mengangguk. Sadar kalau tak lama lagi aku akan segera berpisah dengannya. Ya tuhan, mengapa aku merasa berat berpisah dengannya? Aku masih ingin melihatnya, masih ingin berbicara dan duduk bersamanya, masih ingin mendengar suaranya yang menyejukkan. Tapi aku tak punya kuasa untuk menahannya lebih lama lagi di sini.
Dia mendekatkan benda itu ke telinga kirinya. “Assalamualaikum… hemm, iya. Aku masih di sini kok, gak berkeliaran kemana-mana.” Kudengar dia tertawa. “Ada nih, anak SMA, cakep loh…” Dia tertawa lagi.
Siapa yang disebut anak SMA cakep? Aku kah?
Dia masih berbicara di corong hapenya. “Kelas pengajianmu sudah khatam? Hemm… iya, aku tunggu. Waalaikumsalam…” Dia menyudahi obrolannya lalu memasukkan hapenya kembali.
“Sepupumu cewek?”
Dia menggeleng. “Ikhwan. dia jadi murabbi(3) bagi siswa sekolah dasar. Pengajiannya tiap sore hari senin dan kamis, di gedung sekolah.”
“Kamu sendiri, pernah memberikan pengajian?”
Dia menggeleng. “Pengen, tapi belum ada kesempatan.” Dia menatapku. “Merasa lebih baik?”
Kusunggingkan seulas senyum. “Ya. Aku siap mengejutkan seisi rumah.”
Dia tertawa. “Jangan kuatir, aku yakin mereka akan menerimanya dengan lapang dada. Yah, walaupun bapakmu harus mengeluarkan biaya ekstra satu tahun lagi. Tapi itu akan dicatat sebagai ibadahnya kok, menafkahi keluarga itu ibadah kan bagi seorang bapak?”
Aku manggut-manggut. “Terimakasih untuk semuanya ya, kamu santri pertama yang kutemui yang memberiku banyak pelajaran.”
“Jangan lupakan fakta kalau aku juga santri pertama yang kamu siram dengan air mata dan ingusmu.”
Aku terpingkal. “Aku minta maaf untuk itu.”
“Bukan hal besar kok. Aku senang bahuku bermanfaat untuk remaja labil sepertimu.”
“Aku bukan remaja labil.”
“Ya, memang bukan. Kamu siswa SMA yang tak lulus.”
“Itu baru benar.”
Kami tertawa bersamaan. Suara klakson dari arah pintu masuk taman menyita perhatian. Kami menoleh. Seseorang melambai di sana di atas sepeda motornya.
“Aku sudah dijemput tuh…” Ujarnya padaku. Dia balas melambai pada laki-laki dalam balutan baju muslim putih di gerbang sana, sepupunya. “Aku izin ya…” Dia berdiri lalu menyandang ranselnya dan mengenakan kembali peci hajinya.
Aku ikut berdiri. Hatiku seakan tak rela dia pergi. Dia menghadapku setelah selesai dengan atributnya. Terakhir kali, aku mencoba merekam sosoknya utuh dari kasut sederhana yang mengalasi kakinya hingga peci kupluk putih di puncak kepalanya.
Bek weuh meunan hai…(4) Aku ikut sedih nih.” Dia meledekku.
Kuberanikan diri merangkulnya. Dia balas merangkulku hangat. Bahuku ditepuk-tepuknya. Sungguh aku tak rela berpisah dengannya. Tak pernah aku merasakan emosiku terlibat sedalam ini terhadap orang yang baru kujumpai pertama kali. Lama kami berpelukan, hingga hembus angin entah untuk ke berapa kalinya meluruhkan bunga-bunga kuning Pokok Asan di Taman Riyadhah ini. Kami saling melepaskan rangkulan.
“Jaga seragammu…” Dia menyentuh dasi abu-abuku yang sudah sangat kusut. “Jangan cat dasi ini ya…”
Aku tersenyum. “Semoga liburanmu di sini menyenangkan.”
“Sebenarnya, aku tak sedang berlibur.”
Aku mendesah. “Semoga silaturrahmi-mu di sini diberkahi.”
“Amiiin…” Dia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan seperti bila kita baru siap berdoa. “Aku pamit ya… Assalamualaikum.”
Walau berat, aku tak mungkin menahannya lebih lama lagi di dalam sini. “Waalaikumsalam…”
Dia berbalik lalu melangkah tegap menuju gerbang dimana sepupunya sudah menunggu sejak beberapa saat lalu. Rasa hampa menyingkupiku seiring dengan punggungnya yang kian menjauh. Perpisahan terjadi sudah. Dia menyeberang gerbang lalu naik ke boncengan motor sepupunya. Menoleh ke arahku lagi sambil melambaikan tangan, aku balas melambai padanya. Sepupunya membunyikan klakson satu kali untukku lalu mulai melajukan sepeda motornya. Membawa sosoknya hilang dari jarak pandangku.
Aku duduk lunglai di tempat dudukku semula. Sosoknya seakan masih tergambar jelas bersamaku. Kulirik tempat yang baru saja ditinggalkannya. Rasa hampa itu semakin menyingkupiku. Berkali aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Lalu detil pertemuanku dengannya seperti direka ulang di kepalaku. Awal dia memberi salam untukku, kritiknya untuk taman ini yang menurutnya kurang diperhatikan, pandangannya tentang rokok, sirihnya, tangannya yang mengacak kepalaku, aku yang menyandar dan membuat basah bahunya, nasihat-nasihatnya, pelukan perpisahannya tadi dan salamnya sebelum melangkah meninggalkanku, hingga lambaiannya saat sudah di atas motor. Semuanya kukenang kembali. Seharusnya aku menanyakan namanya, seharusnya aku menyimpan nomor hapenya, seharusnya aku menawarkan diri jadi turguide-nya disini –walaupun dia tak sedang tur, dan seharusnya aku mengatakan padanya kalau aku ingin jadi temannya. Ya, kini aku telah yakin dalam hatiku. Aku menyukai sosoknya dan menginginkan dia tak hanya sebatas orang asing yang kujumpai sepintas lalu. Tapi dia tak ada lagi di taman ini. Aku akan merindukan sosok itu.
Aku semakin merasa hampa. Ini kali pertama aku merasakan kehadiran seseorang yang meninggalkan kesan teramat dalam di sini. Di hatiku. Anehnya, justru kesan mendalam itu diciptakan oleh sosok santri yang hanya kukenal hitungan jam, satu jam lebih saja. Aku yakin, aku tak akan pernah melupakannya. Dalam hati, aku juga mengharapkan yang sama padanya, berharap kalau dia juga tak akan melupakanku terlalu cepat. Aku dan dia, teman tak bernama yang hanya kenal satu sore di Taman Riyadhah.
Senja mulai menyemburat jingga. Angin mulai terasa sejuk di bawah Pokok Asan. Aku bangkit dari kursiku, menepuk-nepuk seragamku dari bunga-bunga kuning yang masih bersisa. Juga mengacak kepalaku seperti yang sempat dilakukan seseorang beberapa saat lalu. Taman Riyadhah mulai ditingalkan pengunjungnya. Aku membawa langkahku menuju pintu. Berdiri sebentar di sini untuk menoleh sekali lagi pada bangku yang baru saja kutinggali. Aku tersenyum. Kulangkahkan kakiku keluar menuju jalan sibuk di sekeliling taman. Mulai hari ini, Taman Riyadhah akan jadi tempat paling kusenangi. Menggantikan bilik warnet, kamar play station atau bibir pantai seperti banyak hari yang telah kulalui. Mungkin juga aku akan mulai mencintai gulungan sirih manis, sebagai pengganti gulungan nikotinku. Dan tentu saja, saat aku berkunjung esok, aku akan duduk di bangku yang sama tempat aku melewati sedikit waktu bersama seorang santri berhati baik hari ini. Bangku yang sama di bawah Pokok Asan yang sama di dalam Taman Riyadhah…
Satu hari di bulan Juni 2012
Sebuah persembahan tak layak kepada para sahabat
-n.a.g-
nay.algibran@gmail.com
foot note :
(1)Logat Aceh; “Ingin makan sirih?”
(2)Istilah Aceh; Sirih manis (daun sirih yang sudah diisi pinang muda halus yang diolah bersama gula).
(3)Ustadz/ustadzah yang memimpin/memberi pengajian.
(4)Logat Aceh; “Jangan sedih gitu…”
Lebih banyak cerita, kunjungi www.algibrannayaka.wordpress.com

Pirate of Love


Pirate Of Love Cover

Pirate Of Love
Oleh : Nayaka Al Gibran

Hampir setiap hari ketika matahari memproyeksikan bayangan orang-orang tepat di bawah pijakan kaki sendiri, mereka akan duduk berjejer membentuk setengah lingkaran di hadapan lelaki tua yang kerap dipanggil Oldman itu. Oldman, yang oleh sebagian orang di pemukiman kumuh pinggiran kota itu dianggap setengah waras sudah cukup senang bila mereka membawa sekerat roti tawar dan secawan susu untuknya, namun lebih sering mereka hanya membawa salah satunya saja, seperti hari ini.
“Ah, kupikir kalian tidak akan datang.”
“Kami juga berpikir begitu tadinya, Oldman…” seorang gadis belia langsung mengambil tempat paling dekat dengan Oldman, dua gadis seusianya mengikutinya duduk, langsung di atas tanah.
“Rotimu.”
Lelaki muda yang berbadan paling tinggi di antara mereka mengulurkan roti tawar pada Oldman yang diterima dengan tangan keriputnya yang gemetar, langsung dipatahkan menjadi dua bagian dan satu bagian diantaranya disuapkan ke mulut sedang sisanya diselipkan ke balik jubah lusuhnya. Ia mengunyah perlahan, seperti ingin merasakan tekstur roti itu lebih lama dalam mulutnya.
Kini di hadapan Oldman sudah berkerumun delapan muda-mudi yang tampak seusia, dua atau tiga belas tahun, paling tua mungkin empat belas tahun, anak-anak pinggiran dengan pakaian lusuh dan tampang dekil, siap mendengarkan ocehannya. Bagi muda-mudi itu, Oldman yang dianggap gila oleh kebanyakan orang di pemukiman mereka memiliki banyak kisah menarik untuk diceritakan. Dan itulah alasan mengapa mereka masih mau datang ke tempat tunawisma tua itu berada, demi mendengarkan ceritanya.
“Jadi, apa kisahnya hari ini, Oldman?” gadis belia yang duduk paling dekat dengan si lelaki tua bertanya.
Oldman terbatuk satu kali lalu meraba-raba ke balik terpal yang menjadi alas hidupnya di pojokan bangunan reot yang difungsikan sebagai gudang peralatan oleh pemiliknya. Ia menemukan apa yang dicarinya, botol air minumnya. Setelah membasahi kerongkongannya, ia berusaha memfokuskan pandangan tuanya yang kian mengabur ke sosok si gadis yang baru saja bertanya dan kemudian mendesah lelah.
“Ah, Isabel, kau selalu terburu-buru. Tidak bisakah bersabar membiarkan pria tua ini menikmati secuil kenikmatan dunia yang masih bisa dicecapnya?”
Gadis belia berambut ikal kemerahan itu tidak bernama Isabel, tapi tak peduli apapun namanya, Oldman akan memanggil semua anak perempuan yang ia jumpai dengan nama Isabel atau Isabella, sebagaimana ia juga akan memanggil anak lelaki manapun dengan sebutan Joseph. Tak ada yang tahu mengapa, tak ada yang ingin tahu bagaimana sejarahnya hingga Oldman begitu memfanatikkan Isabel dan Joseph. Dan tak ada yang pernah keberatan dengan kebiasaannya tersebut.
“Apa aku sudah pernah menceritakan tentang Valarie?”
“Gadis buta yang punya Vegasus bernama Alexa? Ya, Oldman, kau sudah pernah menceritakannya.” Isabel yang lain menjawab cepat.
“Oh, bagaimana dengan Orange Lady?”
“Kau sudah pernah mengisahkannya hingga dua kali, kisah yang tragis, kami tidak ingin menangis lagi,” Joseph menjawab.
Oldman terbatuk, “Ah… tentang Aquamarine?”
“Duyung perempuan buruk rupa.” Muda-mudi itu mulai gusar.
“Sudahkah aku bertutur tentang Penelope dan Rosalie?”
“Aku tidak ingin hidup seperti Penelope dan Rosalie, mereka terlalu bodoh mau bertahan menjadi pelacur dengan segala perlakuan kasar itu…”
“Hemm… ternyata kalian sudah tahu semuanya.”
“Another story, Oldman!” protes Isabel.
“Cerita yang lain?”
Tiga Isabel dan lima Joseph mengangguk serempak, pandangan dan air muka mereka terlihat menuntut.
“Hemm… Aku khawatir tidak memiliki cerita yang lainnya lagi, Isabella…”
Muda-mudi itu siap-siap kecewa.
“Tapi…” dan mata mereka kembali tampak bersemangat, “aku masih ingat sebuah cerita hebat, yang belum pernah kuceritakan pada anak manapun di dunia…”
“Kami yang pertama?” tanya salah satu Joseph.
Oldman mengangguk. “Ya, Joseph, kau dan Isabella yang pertama.”
“Cerita hebat seperti apa? Apakah tentang perang?” Isabel kembali bertanya.
“Sayangnya bukan, Isabella. Tapi yang ini jauh lebih hebat dari cerita perang.” Muda-mudi itu berbinar. “cerita ketika zaman bajak laut, para perompak yang gagah, masih jaya dan menguasai seluruh lautan.”
Hening sesaat.
“Apa akan indah? Atau mungkin menyedihkan seperti cerita Savannah dari Utara?”
Oldman terkekeh, lalu terbatuk-batuk. “Tergantung seperti apa kalian memandangnya nanti…” lalu ia merenung sejenak, “ya, mungkin akan ada beberapa bagian yang seram, tapi tenang saja, aku akan melewatkan bagian tersebut jika kalian tak ingin mendengar.”
“Kami ingin mendengar semuanya,” cetus Joseph yang lain.
“Apa akhir ceritanya bahagia?” Isabel bertanya lagi.
Oldman tersenyum, untuk sedetik matanya yang sudah dijajah rabun seakan tersaput gelembung air. “Kita akan lihat…”
Matahari di pemukiman kumuh itu baru saja tergelincir dari titik tegak lurusnya ketika Oldman memulai kisah bajak lautnya.
*
James Earl Claybourne tidak berpikiran sama sekali kalau buah bibir yang beberapa kali sempat mampir ke telinganya tentang bajak laut yang kerap menimbulkan petaka di lautan akan bersinggungan dengan kehidupannya. Begitupun, ia menganggap tak beralasan dan terlalu mencemaskan hal yang mustahil terjadi ketika ayah dan ibunya memberi ingat dirinya dua hari lalu ketika ia siap berlayar menuju Perancis, negeri tempat ia akan menunjukkan kebolehan yang dimiliki pria muda Claybourne, salah satu kuru bangsawan yang disegani di Britania, di negeri angkuh itu.
‘Di antara banyak bajak laut tak bertata krama di luar sana, Jim… aku berdoa pada Tuhan agar kau tidak sekalipun berpapasan dengan kapal milik Tristan Kovack. Karena jika itu terjadi, mungkin kita tidak akan pernah bertatapan lagi…’
Itu ucapan ibunya ketika James memeluk sang ibu di dermaga saat kapalnya siap mengangkat jangkar. Sedang sang ayah, dengan tersirat mengingatkannya tentang mengapa ia sangat perlu untuk tidak sering-sering berdiri di anjungan, atau bersantai di dekat buritan, di luar kabinnya, juga―tentu saja―untuk menghindari kapal Tristan Kovack yang menurut kabar bisa muncul mendadak seperti mencuat keluar dari laut tanpa disadari.
‘Mungkin kau sudah banyak mendengar tentang betapa anehnya perilaku Tristan Kovack selama ini, Jim. Tapi di saat seperti ini, aku merasa perlu mengingatkanmu lagi, bukan karena berharap kalian akan berpapasan, Tuhan tahu betapa aku tidak suka memikirkan kemungkinan itu, namun apapun bisa terjadi di lautan sana. Kau masih muda, meski tidak pernah mendengar secara langsung, tapi aku tahu bahwa seluruh putri-putri bangsawan di sini membicarakanmu, bahkan gadis-gadis di lingkungan kerajaan, membicarakan dalam arti yang bagus. Dan jika mereka membicarakan dirimu sedemikian berhasratnya, aku yakin Tristan Kovack juga akan setuju dengan apa yang gadis-gadis itu bicarakan jika ia sampai melihatmu. Jadi jangan remehkan ini, Nak… semakin jarang kau meninggalkan kamarmu, maka semakin kecil kemungkinan Tristan Kovack menemukan dirimu.’
Ucapan sang ayah terdengar serius sementara beberapa peti berisi gerabah perak, keping-keping logam mulia dan pakaian-pakaian bagus dinaikkan ke kapal. Semua itu, kata sang ayah―tentu saja, untuk berjaga-jaga jika kapal yang dinaiki putranya berpapasan dengan kapal perompak manapun, peti-peti itu bisa menjadi penyelamat seluruh nyawa di kapal. Oh, well, James memang pernah mendengar keanehan perangai bajak laut sialan bernama Tristan Kovack itu. Tapi bajak laut bodoh mana yang tidak mau menerima peti-peti berharga yang disiapkan ayahnya itu? Bahkan bajak laut yang memiliki ketertarikan aneh kepada pemuda tampan seperti Tristan Kovack pun tentu tidak akan menolak diberikan peti-peti itu. Demikian James beranggapan, jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dan petuah ayah ibunya itu tampak begitu konyol di mata James hingga ia ingin tertawa saja, namun demi kesopanan, ia hanya mengangguk. James tetap berkeyakinan kalau perjalanannya ke Perancis akan seindah yang dibayangkannya selama ini. Satu yang disesalkannya adalah tentang Anne de Vlerre yang tidak bisa dibawanya serta, gadis belia pujaan hatinya itu akan melewati masa penantian yang tidak sebentar sampai ia kembali lagi ke Inggris. James berjanji akan segera menulis surat setibanya ia di Perancis dan akan terus melakukannya untuk gadis itu setiap bulan.
Namun James harus kecewa, perjalanan dari negerinya ke Perancis tidak seindah yang diangan-angankannya.
Bermula dari badai yang mengombang-ambingkan kapalnya hingga nyaris tenggelam malam tadi, badai yang memporak-porandakan tiang kapal tanpa ampun, mengacaukan tali-temali, merobek beberapa layar, menggenangkan lambung kapal hampir setinggi lutut, bahkan nyaris memutuskan nyalinya sendiri untuk meneruskan pelayaran. Setelah semua hal menakutkan itu, pagi ini, dengan baju kusut dan rambut berantakan James berdiri di anjungan, untuk pertama kalinya memerhatikan kekacauan yang diakibatkan badai semalam. Kapten kapal, Sir Nicholas, sudah memerintahkan awak kapal untuk melempar jangkar, kapten paruh baya kepercayaan ayahnya itu juga sudah mengeluarkan perintah untuk mengeringkan dan menambal lambung kapal dan sekarang dengan tampang lelah sedang mengawasi beberapa anak buahnya memperbaiki layar yang rusak.
“Seberapa parah kondisi kapal kita untuk dapat kembali berlayar, Sir Nicholas?”
Kapten kapal itu terlihat kaget mendengar suara di belakangnya. Ia buru-buru berbalik menghadap anak majikannya. “Oh, Duke of Claybourne muda, anda tidak seharusnya berada di sini…”
James selalu merasakan keengganan yang hampir bisa disebut sebagai kemuakan setiap ada orang yang memanggilnya dengan gelar kebesaran sedemikian rupa. Gelar itu masih milik ayahnya. “Tolong, Nicholas, cukup Jim saja. Kau bukan orang lain lagi bagi ayahku.”
Sir Nicholas tampak ragu sejenak sebelum ia menggamit lengan James dan setengah menyeretnya meninggalkan anjungan utama. “Baiklah, Jim, sesuai yang ayahmu pesankan padaku, kau tidak boleh berkeliaran sampai ke sini. Demi kebaikan kita semua, kembalilah ke kabinmu. Aku akan menyuruh Raffael mengantar sarapanmu…”
“Oh, tolong, Nick, jangan katakan padaku tentang hal konyol itu lagi. Aku sudah kenyang mendengarnya sebelum naik ke kapal.” James menyingkirkan tangan Nicholas dari lengannya, “Kamarku luas hingga nyaris mengambil setengah bagian kapal, tapi jika sudah dua hari di sana tanpa memandang langit, kau akan merasa betapa membosankannya ruangan itu.” James balik badan, siap untuk kembali ke tempatnya semula berdiri. “untuk sepuluh menit saja, setelah itu kau bisa menyuruh Raffael mengantarkan apapun.”
Nicholas menghela napas panjang sambil memerhatikan anak majikannya mengabaikan perintah halusnya. “Setelah sepuluh menit ke depan, pastikan dirimu sudah tidak lagi berada di sini, Jim.”
“I will…”
Siapa yang tahu apa yang bisa diakibatkan oleh waktu selama sepuluh menit itu?
*
“Oldman, apa Duke Claybourne itu sangat tampan?”
Salah satu Isabel menginterupsi Oldman yang mulai bersandar ke dinding di belakangnya. “Bayangkan pemuda paling tampan yang bisa dipikirkan kepalamu, Isabel, maka begitulah Jim ini.”
“Mengapa dia harus ke Perancis?” Isabel yang lain lanjut bertanya.
“Karena Raja Inggris mengutusnya sebagai hadiah kehormatan untuk Raja Perancis.”
“Apa yang akan dilakukan Jim di sana?” kali ini Joseph.
“Memperindah seluruh ruangan di Istana Perancis, itu adalah bakat yang tidak dimiliki banyak pria muda di zaman tersebut.”
“Lalu, apa yang terjadi setelah sepuluh menit?” Joseph yang sama lanjut bertanya.
“Hal yang tak pernah terlintas dalam kepala seorang James Earl Claybourne…”
*
James baru saja selesai berpakaian ketika Raffael mengetuk pintunya. Mengabaikan untuk meminyaki rambutnya, James memilih untuk menunda menyelesaikan agenda merapikan dirinya dan menyambut sarapannya terlebih dahulu dengan rambut masih berantakan.
“Kenapa kau mau bekerja di kapal di usia semuda ini, Raffael?” James bertanya pada bocah sepuluh tahun yang mulai menata sarapannya di atas meja.
Raffael, yang memiliki bola mata secemerlang venus memandang tuan kapalnya sekilas di sela-sela tangan cekatannya mengatur piring dan mangkuk. “Ayahku meninggal setahun yang lalu, Tn. Claybourne.” James menyesal telah bertanya. Tapi anak bernama Raffael sepertinya tipe pribadi yang extrovert, ia tidak berhenti menjawab sampai di situ. “Ibuku seorang buruh cuci biasa. Yang disayangkan adalah, ayahku memberinya satu anak laki-laki dan empat anak perempuan yang bahkan belum bisa mencuci pakaian mereka sendiri. Upah yang diterima ibuku sangat jauh dari cukup untuk memberi makan bahkan sebagian dari kami…” Raffael diam sejenak, “Aku anak laki-laki tua di keluargaku, ibu dan saudara-saudara perempuanku membutuhkanku lebih dari diriku sendiri membutuhkan diriku…”
James memandang anak di depannya yang masih terus menata makanannya. Sejauh ini sudah beberapa kali Raffael mengantar makan untuknya, tapi baru pagi ini mereka terlibat percakapan. “Duduklah, dan makan bersamaku.”
Raffael berhenti dari pekerjaannya dan mendongak, cawan terakhir yang hendak diletakkannya ke atas meja berhenti di udara. “Tn. Nicholas akan punya alasan bagus untuk memecatku jika itu kulakukan, Tn. Claybourne.”
“Tidak jika aku yang memecatnya lebih dulu.” James menarik kursi buat dirinya sendiri lalu duduk, setelahnya ia menjangkau cawan dari tangan Raffael dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan anak itu. “Duduklah, Rafy.” James melirik anak yang masih mematung di depannya, “Boleh kupanggil kau Rafy?”
“Itu panggilan yang bagus, Tn. Claybourne.”
“Tidak ada yang memanggilmu demikian sebelumnya?”
“Ibu dan saudaraku memanggilku Rafe.”
“Baiklah, Rafe, mulai saat ini kapanpun aku harus makan di kapal ini, kau juga akan ikut makan bersamaku. Dan itu dimulai dari saat ini, sekarang duduklah!”
Raffael terlihat terkejut. “Tn. Claybourne, aku ti…”
“Atau kau lebih suka bekerja di tempat lain? Aku bisa menyuruh Nicholas meninggalkanmu ketika ia berlayar kembali ke Inggris. Mana yang lebih kau sukai? Makan bersamaku atau menjadi gelandangan di Perancis?” James ingin tertawa melihat betapa pucat pasinya wajah anak di depannya. Sungguh, demi malaikat di surga ia sama sekali tidak punya niat untuk menyuruh Nicholas melakukan apa yang baru saja diutarakannya jika Raffael bersikeras menolak.
“Mungkin aku akan merusak selera makan anda, Tn. Claybourne.”
“Selama kau tidak memuntahi meja, hal itu tidak akan terjadi.”
Dengan canggung, Raffael menarik kursi dan duduk. Selanjutnya, James menyadari kalau anak di depannya tidak benar-benar bisa menggunakan sendok dan garpu dalam masa bersamaan.
James berdiri dan memutari meja, “Seharusnya benda ini akan menjadi mudah untuk digunakan sekaligus jika kau memegang mereka dengan cara yang benar, Rafe.” James merasakan tangan Raffael sedingin es ketika ia mengajari anak itu cara menggunakan garpu dan sendok secara bersamaan.
Lalu bunyi terompet membahana nyaring di seantero kapal. James batal menyuap potongan daging ke dalam mulutnya. Sayup-sayup ia mendengar kehebohan di luar kamarnya. Beberapa saat kemudian kapalnya mulai bergerak. Sepertinya Nicholas baru saja memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat jangkar. Apa kondisi kapal mereka sudah berhasil dipulihkan? James bertanya-tanya. Ia menahan keinginan untuk keluar mengecek dan setengah hati meneruskan sarapannya. Namun belum pun sempat menelan daging kunyahannya, terdengar bunyi ledakan di kejauhan dan beberapa detik kemudian kapal yang ditumpanginya bergetar hebat seperti baru saja dihantam sesuatu yang besar, dan kuat.
Raffael berteriak ketika kapal oleng beberapa derajat ke sisi kanan. James sontak berdiri dan menahan benda-benda di atas meja agar tidak meluncur jatuh, meski tidak sepenuhnya berhasil.
Pintu kamar terbuka, di sana berdiri Nicholas dengan tampang pias.
“Apa yang baru saja menabrak kapal kita, Nick?” James bertanya tak sabar.
“Kita diserang.” Jawaban Nicholas terdengar seperti halilintar di siang bolong. “Apapun yang akan terjadi, Jim, jangan tinggalkan kamarmu. Berpikirlah untuk sembunyi…” lalu ia memandang Raffael yang sedang menahan piring agar tidak menyusul beberapa gelas yang sudah bergulingan di lantai kapal. “Berdoalah, Nak, dengan sungguh-sungguh.”
“Nicholas…!” James berteriak memanggil, tapi kapten kapalnya sudah menutup pintu.
James menyadari kalau pintu kamarnya dikunci Nicholas dari luar. Untuk sesaat ia saling berpandangan dengan Raffael yang bibirnya mulai gemetar, entah karena sedang melaksanakan perintah Nicholas untuk berdoa atau karena anak itu sedang berada dalam ketakutan yang amat sangat. Dan James tidak bisa memungkiri kalau saat ini ia juga sedang takut.
Kapalnya diserang di tengah lautan.
Bajak laut.
Tentu saja.
Mereka berpapasan dengan salah satu kapal bajak laut.
Tapi bajak laut yang mana?
Nicholas menyuruhnya sembunyi.
Tristan Kovack.
Kenapa ia perlu sembunyi kalau bukan Bajak Laut Tristan yang berpapasan dengan kapalnya?
Raffael terpekik ketika sekali lagi suara letusan membahana dan terdengar lebih dekat yang langsung diikuti dengan kapal yang bergetar hebat dan kemiringan yang makin parah hingga mereka berdua harus merelakan semua benda di atas meja jatuh berhamburan. Jika tadi saat serangan pertama kapalnya masih bisa bergerak meski tidak cepat, setelah serangan kedua ini, James menyadari kalau kapalnya benar-benar berhenti. Di tengah-tengah lautan yang maha luas.
Ucapan ayah ibunya menjelang keberangkatannya dan semua desas-desus serta kabar tentang keganasan bajak laut yang pernah didengarnya selama ini terngiang bertindihan di kepala James, ia mulai dibungkus kengerian.
Lalu James bergidik ketika di atas kapalnya, tepat di luar kamarnya, keributan hebat mulai terjadi. Suara pedang yang saling beradu ditingkahi letusan senapan. James membayangkan kalau Nicholas dan anak buahnya sedang terlibat bentrok langsung dengan para bajak laut. Kenapa Nicholas tidak menawarkan peti-peti itu? James bingung menemukan jawaban untuk pertanyaannya sendiri.
“Tn. Claybourne, anda harus sembunyi.” Raffael berseru ketika keributan di luar makin menjadi-jadi.
James tersadar. “Kita berdua harus sembunyi, Rafe. Setauku bajak laut tidak membuat pengecualian untuk anak-anak.” James baru saja memutuskan kalau bajak lautlah yang sedang menyerang kapalnya.
“Tidak, kalau anda sembunyi, mereka akan mengira bahwa ini kamarku jika mereka sampai mendobrak kemari. Kalau mereka tidak menemukan satupun orang di dalam kamar megah ini, mereka akan terus mencari dan kita berdua pasti akan ditemukan.” Raffael menanggalkan kostum luar pelayannya, menjejalkannya ke bawah kolong tempat tidur James lalu membuka lemari pakaian James dan segera menemukan apa yang dicarinya. Syal bagus berumbai-umbai benang emas segera dililitkan ke lehernya. “Maafkan aku untuk kelancanganku ini, Tn. Claybourne…” Raffael selesai menyampirkan mantel beludru milik James ke bahu kurusnya dan terakhir menutupi kepalanya dengan topi hitam berhias bulu burung tiga warna.
James tidak yakin dengan rencana pengantar makanannya itu, dua benda yang sedang dikenakan Raffael untuk menyamar―kecuali syal rumbai emas―sangat jelas terlihat kebesaran untuknya. Siapapun yang melihat Raffael pasti akan langsung tahu kalau apa yang dikenakan anak itu adalah pakaian milik orang lain.
“Tn. Claybourne, tunggu apa lagi? Lekaslah sembunyi.”
Saat Raffael mengingatkan dengan berbisik nyaring, James baru menyadari kalau keributan yang berlangsung beberapa menit lalu di atas kapalnya sudah mereda dan sekarang digantikan dialog-dialog serta suara tawa dan sesekali bentakan kasar yang hanya bisa didengar James sayup-sayup dari kamarnya. Apa Nicholas berhasil mempecundangi bajak laut itu? Apa peti-peti itu berhasil membujuk mereka? Atau sebaliknya, kapalnya sudah berhasil ditaklukkan dalam waktu tak sampai tujuh menit. Dari tawa-tawa asing di luar sana, kemungkinan terakhir adalah yang paling mungkin terjadi.
James merinding. Sekarang ia sungguh-sungguh berharap kalau bukan Bajak Laut Tristan Kovack yang sedang berada di atas kapalnya.
“Tn. Claybourne, apa yang anda tunggu? Tidakkah anda sadar kalau mereka sedang memeriksa seluruh sudut kapal?”
Samar-samar James bisa mendengar suara hentakan sepatu di lantai kapalnya, makin lama makin kentara. Ada seseorang yang sedang menuju ke kamarnya. Tidak menjawab Raffael, ia berjuang melawan kemiringan dan mendorong lemari buku yang berdiri di samping lemari pakaian ke arah pintu, untuk itu ia harus mendorong benda tersebut melintasi ruangan. “Rafe, bantu aku.”
Raffael mengerti dan segera membantu James mendorong lemari buku ke arah pintu. Tidak cukup dengan itu, James mendorong meja makannya juga. Di saat-saat seperti ini, James menyesal mengapa ia tidak memiliki sepucuk senjata pun.
“Sekarang sembunyilah, Tn. Claybourne!”
James menimbang-nimbang antara kolong tempat tidur dan lemari pakaiannya. Sedetik kemudian ia sudah melesat ke dalam lemari pakaian, berdiri dengan keringat dingin yang mulai memercik di pelipis. James bersembunyi sementara seorang anak kecil menjadi tameng untuk nyawa pengecutnya. Sungguh memalukan, terlebih itu dilakukan oleh pria berdarah biru seperti dirinya. Dari celah pintu lemari, James bisa melihat bahu Raffael gemetar. Anak itu, tentu saja, sangat takut, tapi demi melindungi tuannya ia harus bertindak berani. James menggigit bibirnya, saat ini ia merasa sedang berada di titik terendah hidupnya.
BRAAAKKK
Lemari buku dan meja nyaris tumbang. Dengan kemiringan sedemikian rupa, tentu saja tidak perlu usaha keras untuk membuat kedua benda itu menjauh dari pintu. Namun pintu yang masih berada dalam keadaan terkunci sedikit memperlama usaha mendobrak yang sedang dilakukan siapapun bajingan di balik pintu tersebut.
BRAAAAKKKK
James menahan napas ketika untuk sekali lagi si pendobrak beraksi. Meja meluncur kembali ke tengah ruangan disusul lemari buku yang tumbang kemudian.
BRAAAAAKKKKK
Pada dobrakan ketiga, pintu terpentang menganga. Raffael sampai terlonjak di tempatnya berdiri gemetar.
Dari celah pintu lemari, James menemukan seorang lelaki tinggi besar dengan brewok meranggas sangar berdiri pongah di ambang pintu. Sepucuk senapan melintang di dadanya. Apa dia bangsatnya yang bernama Tristan Kovack, atau dia salah satu dari sekian deret perompak yang merajalela di lautan bumi ini? James merasa sendi-sendi kakinya hilang seketika ketika orang di ambang pintu membentak Raffael dengan gelegar suara mengerikan.
“DIMANA PRIA ITU, BOCAH?!?”
Raffael tidak menjawab.
“ATAU KAU LEBIH SUKA AKU MENCARINYA SENDIRI, HAH?!?” moncong senapan menyasar kepala Raffael.
“Ti-tidak ada orang lain di kamar ini se-selain aku…”
James setengah mati berharap pria menyeramkan di ambang pintu percaya pada keterbataan ucapan pelayannya.
Senapan dikokang. “Oh, sayang sekali, bocah, sepertinya kau lebih suka aku mencarinya sendiri.”
“Not today, Frankenstein, sudah cukup senapanmu menyalak hari ini. Ayo, berbelaskasihanlah pada anak malang itu.”
Satu sosok melangkah keluar dari balik badan besar pria yang dipanggil dengan Frankenstein tersebut. Dari celah pintu lemari pakaiannya, James memerhatikan dengan keringat yang mulai meluncur. Ia menerka kalau pria yang baru saja muncul di kamarnya itu adalah bos si pria besar bersenapan yang masih bersiaga di ambang pintu, kalaupun bukan bos, tentu jabatan si pria besar bersenapan berada di bawah pria yang baru saja muncul, terbukti ia tidak jadi membuat lubang di kepala Raffael.
Pria kedua berjalan tegap dengan langkah lebar mendekati Raffael dan berdiri satu langkah di hadapan anak itu. Sebelum kembali bersuara, pandangannya mengitari kamar dan berhenti lama ketika menatap lemari. Tatapan tajamnya seakan mampu menembus dinding baja dan melihat apapun yang ada di baliknya dengan jelas. James merasakan jantungnya meluncur ke perut dan masih di sana sampai pria itu menunduk memfokuskan pandangannya pada Raffael.
“Siapa namamu, Nak?”
“Raffael. Kapal ini milik ayahku.” Di dalam lemari, James bersyukur kali ini Raffael berhasil menjawab tegas.
Pria di depan Raffael terlihat mengulum senyum. “Ah, ternyata kau yang masih muda lebih berani daripada tuanmu yang bersembunyi layaknya tikus pengecut.”
Di persembunyiannya, James merasakan darahnya mendidih. Seumur-umur, belum ada yang berani menghinanya sedemikian rendahnya.
“Aku satu-satunya tuan di kapal ini,” tukas Raffael.
“Tristan, hajar saja bocah pembohong itu!” pria tinggi besar di ambang pintu bersuara lantang.
Di dalam lemari, darah James seperti tersirap. Ia tidak mungkin salah dengar. Pria tinggi besar bertampang seram baru saja memanggil pria kedua yang lebih rapi dengan sebutan Tristan. Tristan Kovack. Ternyata yang sedang berada di atas kapalnya benar-benar bajak laut itu. Kini James memfokuskan pandangan sepenuhnya pada sosok di depan Raffael.
Selama ini, orang-orang hanya membicarakan perangai Tristan Kovack, keganasannya terhadap kapal-kapal malang yang menjadi korbannya, tapi tidak pernah membicarakan seperti apa tampangnya. Dan James harus mengakui kalau sosok Tristan Kovack sama sekali jauh dari kesan bajak laut sangar yang selama ini dibayangkannya sebagai pria dengan sebelah mata tertutup, rambut kusut menjela hingga dada, kumis melenting dan jambang keriting awut-awutan. Tristan Kovack sama sekali tidak seperti itu, jika tidak melihatnya di lautan tetapi di bandar atau tempat lain selain di tengah lautan, James pasti akan mengira kalau pria itu adalah bangsawan kaya raya. Ya, Tristan Kovack memang mengenakan topi lebar dengan pinggiran tergulung di bagian depan, lengkap dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang, tapi di atas kepalanya, properti itu tampak sangat elegan. Kedua tangannya utuh, tidak tersambung besi berpengait seperti yang selama ini disangkakan orang-orang. Satu yang cocok dengan bayangan James adalah, Tristan Kovack memiliki tubuh jangkung dan kulit kecoklatan hasil tempaan sinar matahari.
Dengan tatapan tajam dinaungi alis tebal lurus dan rahang persegi serta bulu tipis disekitar dagu dan di bagian atas mulutnya, James harus mengakui kalau Tristan Kovack adalah pria yang menawan, amat sangat menawan untuk ukuran seorang bajak laut.
Sedetik kemudian, James merinding ketika mengingat perilaku aneh Tristan Kovack. Ia mulai mencemaskan nasibnya bila bajak laut itu sampai menemukannya.
“Baiklah, Frankenstein, aku juga tidak begitu suka pada kebohongan, terlebih bila dilakukan oleh anak-anak demi melindungi seorang pengecut.” Tristan Kovack mundur beberapa tindak, “kuserahkan anak bernama Raffael ini padamu.”
Sebenarnya, disebut sebagai pengecut oleh Tristan Kovack hingga dua kali sangat membakar amarah James, namun rasa takut mengalahkan amarah itu. James kian berdebar ketika melihat seringai di wajah pria sangar yang mulai meninggalkan ambang pintu untuk mendekati Raffael, dengan senapan siap ditembakkan. James tidak bisa melihat wajah Raffael karena pelayannya itu membelakanginya, tapi James yakin kalau Raffael pasti sedang pucat pasi. Siapapun pasti akan begitu jika berhadapan dengan situasi dimana batas antara hidup dan mati hanya berjarak satu letusan peluru saja.
*
“Oh, Tuhan…” Isabel berambut pirang lurus menutup mulutnya dengan kedua tangan, “Apa ia akan menembak Rafe?”
Oldman merenung pada salah satu pendengarnya itu. “Bagaimana menurutmu, Isabella? Apa Frankenstein akan membunuh anak itu?”
“Aku yakin Rafe akan menjadi tokoh yang bertahan,” yang menjawab adalah Joseph pembawa roti.
“Mengapa kau bisa seyakin itu?” Oldman memandang Joseph yang baru saja bersuara.
Joseph mengedikkan bahu, “Aku hanya yakin saja.”
“Menurutku, James tidak akan membiarkan teman mudanya itu dibunuh bajak laut.”
Oldman tersenyum mendengar ucapan Isabel yang duduk paling dekat dengannya. “Teman muda…” ia menggumam kepada dirinya sendiri. “apa yang membuatmu berpikir kalau James tidak akan membiarkan Rafe dibunuh, Isabella?”
“Entahlah, kurasa James sudah menganggap Rafe sebagai temannya sejak ia meminta Rafe untuk sarapan bersamanya. Dan… seorang teman pasti tidak akan membiarkan temannya mati demikian mudah di hadapannya.”
Oldman tersenyum. “Bagaimana dengan teman yang rela berkorban demi melindungi temannya? Tidakkah kau berpikiran kalau Raffael sudah siap berkorban ketika ia memutuskan untuk tidak ikut bersembunyi dengan James?”
Isabel terdiam. “Mungkin saja James yang akan berkorban demi Rafe, dengan menyerahkan diri sebelum Frankenstein menarik pelatuk senapannya.”
Oldman kembali tersenyum. “Yah, kau bisa jadi benar Isabella… tapi mungkin juga salah…”
*
Ucapan Raffael mengiang di telinga james, membuat dadanya berdentuman dan nuraninya bergolak. Sementara itu, orang bernama Frankenstein kian mendekati si malang Raffael. James memejamkan matanya.
‘Ibuku seorang buruh cuci biasa…’
‘Ayahku memberinya satu anak laki-laki dan empat anak perempuan… ‘
‘Upah yang diterima ibuku sangat jauh dari cukup untuk memberi makan bahkan sebagian dari kami…’
‘ibu dan saudara-saudara perempuanku membutuhkanku lebih dari diriku sendiri membutuhkan diriku…’
James tidak akan memaafkan dirinya sendiri seumur hidupnya yang mungkin hanya akan bertahan sampai Tristan Kovack memerintahkannya melompat ke laut, jika sampai membuat Raffael mati demi menyelamatkannya. Ya, memang selalu ada kemungkinan bagi Raffael―bahkan semua awak kapalnya, juga dirinya sendiri―untuk mati di atas kapal ini sejak sekarang, namun James tidak mau menjadi penyebab kematian bagi Raffael dan orang-orangnya itu, tidak jika itu terjadi demi melindungi dirinya.
Jadi, inilah yang James harus lakukan, melangkah menentukan nasibnya yang hanya Tuhan saja yang tahu akan menjadi seperti apa di tangan seorang Tristan Kovack. James yakin dengan pasti bahwa dirinya akan bernasib sama dengan banyak pemuda korban Tristan Kovack yang pernah diceritakan orang-orang di daratan, namun ia masih berharap Tuhan mau berbelas kasih dengan memberinya sebuah pengecualian, sebuah keajaiban.
James membuka mata bertepatan dengan seringai menakutkan di wajah Frankenstein.
“JANGAN GANGGU ANAK ITU, BEDEBAH… BUKAN DIA YANG KALIAN INGINKAN…!!!
Gelegar suara James menggema dalam kamar, pintu lemari nyaris terlepas karena ditendangnya ketika melangkah keluar.
“Tn. Claybourne, anda gegabah sekali.” Raffael berseru pada tuan mudanya.
“Menyingkirlah Rafe, jangan korbankan dirimu pada bangsat-bangsat ini. Bagaimanapun, mereka akan menemukanku.”
James menangkap seringai yang nyaris berupa senyum dikulum di wajah Tristan Kovack, pria itu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, sangat santai, seakan dirinya sudah sering berhadapan dengan situasi seperti ini. Oh ya, tentu saja ia sudah tidak asing dengan situasi serupa ini.
“Hemm… Tn. Claybourne, ternyata kau tidak sepengecut yang kusangkakan.” Sekarang Tristan Kovack tersenyum sinis, ia pasti tahu nama belakang James dari seruan Raffael.
“Manusia rendah sepertimu tidak berhak bicara padaku!”
Dan Tristan Kovack terbahak kencang, diikuti Frankenstein kemudian. James mendidih sudah, ingin saja ia menerjang pria di depannya, menghajarnya hingga mati. Tapi senapan yang masih siaga di tangan Frankenstein membuatnya harus berpikir dua kali.
“Nanti akan kubuktikan langsung padamu, Claybourne muda, kalau aku punya hak daripada sekedar bicara atasmu!” Tristan Kovack menatap James dengan tatapan tajamnya.
James seperti disiram air es, air es yang langsung dicairkan dari es abadi di kutub. Ia menggigil membayangkan maksud dari kalimat dingin Tristan Kovack.
“Persilakan Tn. Claybourne ke kapal kita, Frank…” Tristan Kovack berbalik setelah mengeluarkan perintah dan siap melangkah meninggalkan kamar.
“Aku tidak akan naik ke kapalmu!”
“Jika kau kesulitan, Frank, aku tidak akan keberatan kalau kau membawa Tn. Claybourne ke kapal kita dengan cara diseret setengah pingsan.” Tristan Kovack tidak berbalik sama sekali ketika berkata, bahkan ia tidak menolehkan kepalanya. Kalimatnya memang ditujukan pada Frankenstein, tapi James tahu kalau kalimat itu juga ditujukan buatnya, lebih ditujukan buatnya.
“Aku yakin dia akan pingsan hanya dengan satu kali hajaran.” Frankenstein maju untuk mendekati James, ia melewati Raffael. Tristan berjalan ke pintu, yakin sepenuhnya kalau Frankenstein bisa menangani James sendirian.
“Tn. Claybourne, lari…!!!”
Semua terjadi sangat cepat. Raffael melompat ke punggung Frankenstein dengan piala di tangan. Ia memungut benda itu dari lantai tanpa sempat disadari orang-orang di dalam kamar itu. Tadinya piala itu berisi anggur. Sangat cepat pula, Raffael menghantamkan piala itu batok kepala Frankenstein hingga pria itu terhuyung-huyung dengan pelipis berdarah.
James terbeliak, tidak menyangka kalau Raffael nekat melakukan tindakan tak terduga itu.
Tristan berbalik tepat di ambang pintu. Sama seperti James, ia juga terlihat tak percaya.
“Bocah keparat, kau akan merasakan akibatnya!” Frankenstein mengangkat senapannya.
Raffael terkesiap, tak ada jalan untuk sembunyi.
“Tidak, Rafe…!” James berlari.
DOR
“Arrgghhh…”
PAMM
James tersungkur setelah dihantam gagang senapan Frankenstein. Ia menerjang pria itu tepat pada waktunya, sayangnya harus dibayar dengan bogeman. Tapi setidaknya Raffael selamat dari hajaran peluru.
Tunggu.
James ternganga dengan mulut berdarah. Lima langkah di depannya, Raffael sedang meringis sambil memegangi bagian pergelangan kaki kirinya yang berdarah. Senapan itu tidak sepenuhnya meleset dari menyasar sosok Raffael, sebutir peluru kini bersarang di kaki bocah itu. Tapi Raffael sudah cukup beruntung, tadinya senapan di tangan Frankenstein tepat menyasar dadanya. Usaha James, meski tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya sudah menyelamatkan nyawanya untuk kali ini.
“Rafe…” James merangkak mendekati Raffael, merobek lengan kemejanya dan dengan sigap melilitkan robekan itu ke pergelangan kaki kiri Raffael.
Bunyi kokangan senjata kembali terdengar, membuat tengkuk James kembali dingin.
“Frankenstein, cukup.”
James menoleh pria di ambang pintu. Untuk sejenak mereka saling bertatapan. Kebencian menyertai tatapan James. Kebencian yang makin menjadi-jadi ketika sesaat kemudian Tristan Kovack menyeringai padanya.
“Kali ini kau selamat bocah, tapi jangan harap keberuntunganmu berulang hingga dua kali!” ancam Frankenstein sambil mengistirahatkan senapannya. Luka di pelipisnya tak digubris sama sekali.
“Demi kebaikanmu sendiri Tn. Claybourne, naiklah ke kapalku. Aku tidak yakin bisa mencegah pria bengis ini lebih lanjut jika kau tetap bersikeras menolak.” Tristan Kovack menunjuk Frankenstein lalu berbalik dan mulai melangkah.
Frankenstein memegang lengan atas James dan menariknya dengan kasar untuk berdiri.
“Biarkan aku menolong anak ini…”
“Kau bahkan tidak bisa menolong dirimu sendiri saat ini, Bangsawan!”
“Tidakkah kau lihat? Dia tak bisa berjalan, biarkan aku membantunya.”
“Kau juga tidak berada dalam posisi bisa tawar-menawar, Claybourne!” sengit Frankenstein.
“Tn. Claybourne, tak apa, aku bisa sendiri…”
“Frank, biarkan dia menolong anak itu.” Tristan Kovack bersuara dari lorong.
James merunduk untuk memapah Raffael, anak itu berjalan terpincang-pincang. Frankenstein mengawal mereka dari belakang.
James kaku begitu tiba luar, kapalnya hancur-hancuran. Tiang-tiangnya tak ada lagi yang berdiri tegak, tak ada layar yang terkembang, secara keseluruhan, kapalnya siap tenggelam. Yang paling menyedihkan adalah keadaan Nicholas dan anak buahnya, mereka tak berdaya di bawah intimidasi anak buah Tristan Kovack, semuanya lesu dengan wajah babak belur, beberapa ada yang meringis dengan luka di lengan atau kaki. James menghitung dengan cepat dan merasa lega tidak menemukan satu mayat pun dari awak kapalnya.
James bertatapan dengan Nicholas beberapa saat yang berada dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan tali membelit mulut. Selain Nicholas, beberapa orang bawahannya juga berada dalam keadaan yang sama. James mengalihkan pandangan dari Nicholas ketika kapten kapalnya itu menunduk seakan menyesal. Sekarang ia memandang peti-peti yang mulai dipindahkan para perompak ke kapal mereka, peti harta yang disiapkan ayahnya. James memerhatikan kapal besar nan megah namun terkesan menyeramkan dengan banyak layar hitam dan bendera bajak laut berkibar di ujung tiang utama yang bersisian dengan kapalnya. Demikian besarnya kapal itu hingga membuat kapal James yang sudah setengah karam tampak seperti sebuah perahu nelayan.
“Kau sudah mendapatkan peti-peti itu, mengapa tidak bebaskan saja kami?”
Dan semua perompak terbahak kencang mendengar ucapan James yang ditujukan pada Tristan.
“Maksudmu, membebaskan mereka untuk tenggelam bersama kapal ini?” Tristan Kovack menyeringai, “Mengapa kau tidak memberi kesempatan kepada orang-orangmu untuk hidup lebih lama? Mereka bisa menjadi budak di kapalku ketimbang bunuh diri dengan bertahan di kapal ini.”
Menjadi budak. James mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia memandang Nicholas, kapten terhormat berdedikasi yang dimiliki ayahnya dan sudah dianggap bagai kerabat, membayangkan orang-orang seperti Nicholas menjadi budak membuat James berduka.
“Kumohon, aku meminta belas kasihanmu, Tristan…” untuk pertama kalinya James menyebut nama depan bajak laut itu. Tristan memandang James dengan pandangan tak terbaca. “Kau boleh membawaku, tapi bebaskan mereka saat kapalmu berlabuh di dermaga paling dekat dari sini.”
Para perompak kembali terbahak.
“Aku memang sudah berniat membawamu, Tn. Claybourne, sejak melihatmu melalui teleskopku tadinya, aku memang sudah berniat membawamu.” Tristan mendekat pada James, “sepuluh menit melihatmu di sini sudah lebih dari cukup bagiku memutuskan untuk mencurimu dari kapalmu, Tn. Claybourne.”
Seringai Tristan membuat James bergidik. Ayahnya benar. Seharusnya ia tidak pernah mendekati anjungan, bahkan seharusnya ia tidak pernah melewati pintu kamarnya sekalipun selama pelayaran. James telah melakukan dua kesalahan fatal. Kesalahan pertamanya adalah, satu kali berdiri di anjungan, dan kesalahan keduanya adalah dengan membiarkan kesalahan pertamanya berlangsung hingga sepuluh menit. James menyesali tindakannya sendiri.
Sekarang Tristan membungkuk ke arah James, untuk membisikkan kalimatnya. “Kau meminta belas kasihanku, Tn. Claybourne, maka kau akan mendapatkannya.”
James kaku sementara napas Tristan menghembus kulit wajahnya. Pria itu masih berdiri terlalu dekat dengannya beberapa saat kemudian sebelum berbalik pada para perompak anak buahnya.
“Bawa orang-orang itu ke kapal dan kurung mereka! kita akan lihat nasib apa yang akan diputuskan Tn. Claybourne terhadap mereka nantinya, menjadi tahanan… atau menjadi budak di Black Sail!” Tristan berseru memberi perintah.
Dan para perompak bersorak-sorai sambil mulai menggiring Nicholas dan orang-orangnya.
James melihat Raffael diseret seorang perompak. Mereka menyeberang melewati papan yang diletakkan sebagai jembatan antara kapalnya dan kapal Tristan. Semua orang masuk ke Black Sail melalui pintu kecil di bagian atas lambung kapal bajak laut itu. James memandangi kapal ayahnya sebelum Frankenstein mendorongnya untuk berjalan mengikuti Tristan. Mereka jadi orang terakhir yang menyeberangi papan.
*
Oldman menatap para pendengarnya, tersenyum pada Isabel di dekatnya lalu beralih memandang Joseph yang memberinya roti. “Joseph, kalau kau berada di posisi James, apa kau sanggup mengajukan pengorbanan dirimu demi orang-orang yang pada posisi sebenarnya adalah bawahanmu dan tidak benar-benar kau kenali?”
Joseph yang ditanya terlihat berpikir, “Tapi pada kasus James, berkorban atau tidak berkorban, peruntungan orang-orang di kapal itu bahkan peruntungannya sendiri sudah tentu buruk.”
Oldman tersenyum sambil menggeleng, “Tidak, Joseph… bukan itu intinya. Kau harus melihatnya dari sudut pandang James, bukan dari fakta bahwa mereka semua adalah tawanan yang bebas diperlakukan sesuka Tristan. James memikirkan nasib orang-orangnya, bahwa pada dasarnya Tristan hanya menginginkannya. Kau harus melihat dari sisi dimana James berusaha untuk membebaskan orang-orangnya dan memposisikan dirinya sebagai penjamin untuk mereka, terlepas dari usahanya berbuah hasil yang diharapkan atau tidak sama sekali. Bukankah lebih baik, mengorbankan kehidupan satu orang demi membebaskan banyak kehidupan lainnya?”
“Oldman, kau tidak segila yang orang-orang katakan. “ Joseph yang duduk paling ujung sebelah kiri menukas.
Oldman terkekeh, “Pada dasarnya, semua manusia itu gila, Joseph. Kita bisa memilih menunjukkannya atau memendamnya…”
“Jadi, kau menunjukkannya pada orang-orang itu dan memendamnya dari kami?” Isabel berambut ikal kemerahan bertanya.
“Aku tidak mengatakan demikian, Isabel…”
“Apa yang akan dilakukan Tristan pada James?” Joseph yang sedari tadi mendiamkan diri bermaksud mengembalikan Oldman dan teman-temannya ke cerita.
“Hemm… mungkin kalian tidak mau mendengar bagian itu…”
“Jangan lompatkan alurnya, Oldman…”
“Iya, jangan lompatkan!”
Oldman terkekeh, “Ah, aku khawatir tidak mengingat semua detilnya…”
*

selengkapnya kunjungi http://www.algibrannayaka.wordpress.com

Rabu, 10 Agustus 2016

Lirik "Calvin Harris - This Is What You Came For ft Rihanna"

"This Is What You Came For"

(feat. Rihanna)



Baby, this is what you came for
Lightning strikes every time she moves
And everybody's watching her
But she's looking at you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, oh, oh

Baby, this is what you came for
Lightning strikes every time she moves
And everybody's watching her
But she's looking at you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, oh, oh

We go fast with the game we play
Who knows why it's gotta be this way
We say nothing more than we need
I say, "Your place," when we leave

Baby, this is what you came for
Lightning strikes every time she moves
And everybody's watching her
But she's looking at you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, oh, oh

Baby, this is what you came for
Lightning strikes every time she moves
Yeah

Baby, this is what you came for
Lightning strikes every time she moves
And everybody's watching her
But she's looking at you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, you, oh, oh
You, oh, oh, oh, oh